"Tunas baru generasi muda yang bertumbuh dengan pesat, rawan patah diterpa badai dan ancaman" Di bumi yang luas ini, aku masih setia. Setia menatap ke depan, menyelusuri setiap sudut bumi dengan meraba-raba. Setia melangkah, dengan langkah kebimbangan. Dan tetap setia dengan harapan "semua akan baik-baik saja" Semua ada waktunya ". Di usia belia tanggung ini. Semuanya berenang di kepala. Perihal diri sendiri, orang tua dan masa depan. Sepertinya perihal cinta bukan utama di episode ini. Remaja muda yang mulai tumbuh, namun mudah pula patah. Menggalau tentang cinta hanya sia-sia dan membuang-buang waktu. Masa-masa terombang-ambing di tengah keluguan usia ini. Membuatku semakin hilang arah. Antara benar dan salah, semua tampak sama. Lensa mataku buram, memunculkan area abu-abu. Di dunia yang ku sangka hanya ada warna hitam dan putih. Memunculkan warna baru dengan pandangan ku. Lantas, bagaimana cara ku mem...
Disudut elemen lain, ada beberapa hal yang tidak bisa didefinisikan. Bukan karena kehabisan kata, melainkan terlalu bising untuk diuraikan. Sama halnya dengan aku, gadis separuh usia 23 tahun. Penyuka bunga-bunga sendu, penikmat jingganya senja, beralun termenung bersama buih-buih lautan. Gadis yang tak tahu bagaimana caranya meredam kan kebisingan otak dan hatinya. Terbuai luka-luka yang dan tersayat dengan harapan yang menyapa. Lalu, harus seperti apa untuk menguraikan semua ini? Pertanyaan dan pertanyaan terus bermunculan, namun tidak satupun terealisasikan dengan jelas. Gadis seperti bunga diusia ini, namun bukan bunga-bunga yang memiliki akar yang terurai.