Langsung ke konten utama

PATAH AKAN BERTUNAS

awal yang tak bisa di prediksi 
karena semua masih dalam tahap adaptasi
sama hal nya seperti pribahasa 
tak kenal maka tak sayang


Episode 01

    Pagi yang cerah, sungguh mentari pagi ini menyilaukan pelupuk mata ku yang masih enggan untuk membuka dari alam bawah sadar ku. Perlahan ku membuka pelupuk kelopak mata ku dan menyekat tirai jendala kamar ku "Hmmm, tidak seperti biasanya aku bangun sepagi ini" gumamku. Terdengar ibu sudah mengoceh setengah berteriak padaku yang dikirannya belum bangun " delion! mau sampaikan kamu terus bermalas-malasan tak bangun dari kerajaan tidurmu itu " ungkap ibu dengan lantangnya. Delion itulah nama ku, anak ketiga dari empat bersaudara . Aku memiliki  dua orang kakak, satu laki-laki dan satu lagi perempuan serta memiliki seorang adik perempuan yang begitu menyebalkan bagiku. 

    Aku segera bangkit dari kasur kesayangan ku itu menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk sekolah. selesai aku mandi dan menggunakan seragam putih abu-abu ku, aku menuju meja makan untuk sarapan pagi ini. sarapan adalah hal wajib di keluarga mungkin karena kami terbiasa sejak kecil selalu sarapan sebelum berangkat sekolah . Sudah berjejer piring-piring srapan pagi ini , ya aku dan saudara-saudara ku memiliki kebiasaan mendinginkan nasi  entah itu bermula dari mana kami tidak suka makan dengan nasi yang panas . Aku melirik jam di tangan ku , ternyata sudah jam 07.00 wib  dengan cepat aku mengunyah sarapan ku dan  segera mengakhiri dengan minum segalas air putih. 

    Tanpa berpikir panjang aku langsung meraih tas ku di kamar dan mencari ayah, ya mencari ayah untuk meminta saku sekolah hehehhe... " yah, ayah!! aku minta uang jajan " seru ku setengah berteriak, "itu uangnya sudah ayah letak di atas meja depan tv" sahut ayah ku.  aku bergegas dengan cepat mengambil uang itu, segera ku hampiri ayah yang sedang duduk di ruang tamu " yah, aku berangkat  assalamualaikum" sembari aku mencium tangan berpamitan padanya, " walaikumsallam.." sahut ayah . Aku langsung mengendarai si biru motor kesayangan ku dan tancap gass berangkat menuju ke sekolah.

    Sekitar 10 menit aku tiba di sekolah, SMAN TANJUNG HARAPAN itulah nama sekolah tercinta ku yang terpaksa aku memasukinya karena keinginan ibuku. aku langsung menuju papan pengumuman melihat dimana kelas baru kejuruan ku, ya ini tahun ajaran baru setelah kenaikan kelas X beberapa minggu setelah liburan panjang. Ku baca dengan seksama pajangan kertas pengumuman itu mencari nama ku Dandelion Gracia , aku menemukannya dan ternyata aku masuk ke kelas XI  IPA 2.  Dari kejauhan terdengar suara teriakan yang memanggil nama ku " delion,, tunggu aku dong " , kucari sumber suara yang memanggilku. Ternyata halimah, dia belari dan menghampiri ku " delion ,, kamu ini di panggil dari tadi ga denger apa" ungkapnya dengan kesal. " maaf halimah, aku tadi lagi lihat pengumuman pembagian kelas" ucap ku padanya " kan aku udah chat kamu kalau kita sekelas lagi tau" celoteh nya padaku " hehheehehe,, aku belum buka hp dari tadi,, ya udah ayok ke kelas cari tempat duduk" ajakku padanya.

    Kami pun segera menuju  kelas, serta memutuskan untuk sebangku dan mendapatkan posisi meja kedua dari depan sementara yang lain sibuk dengan memilih posisi meja mereka. " delion,, ternyata kita sekelas dengan yang dari kelas XA kemarin loh" ujar halimah padaku " siapa saja ? " tanya ku padanya " chusniah, eti, yasnah, fela, ada enam orang dengan kita berdua,, haha" ungkapnya " syukur deh kita ada temen yang kenal " ujarku. Tiba-tiba ada yang mengagetkan kami berdua " delion halimah kita sekelas lagi! " teriak nya pada kami. ku toleh dengan sedikit ingin emosi " ih ngagetin aja deh chusniah, bisa ngga sih ga usah teriak bikin jantungan" ucap ku ketus padanya. " biasa aja kali delion, gitu aja emosi" ucapnya dengan sedikit tertawa. " hahahhaa,,, iya deh iya dari pada nanti perang dunia"  ujar ku seraya tertawa. " delion,, meja depan kita kosong nih apa kita pindah kedepan aja ?" tanya halimah " nggak ah males lagian fela dan yasnah belum datang kan?" ucapku " eh iya, tumben mereka berdua belum datang" ujar halimah sambil memperhatikan ruang kelas. 

    Dan akhirnya wali kelas kami pun datang , bapak guru yang masih berstatus bujangan menjadi wali jelas kami yaitu pak kurnia. pak kurnia ini guru paling frendly bagi beberapa siswa maklum yang namanya guru pasti ada haters dari murid sendiri. " sekarang bapak yang menjadi wali kelas kalian, untuk struktur kelas nya bagaimana , apakah ada yang mencalonkan diri menjadi ketua kelas ?" tanya pak kurnia pada kami. " voting saja bagaimana pak? " ujar fela " boleh itu bagus juga, siapa calon kadindat ketuanya?" ucap pak kurnia. fela mengajukan dirinya sebagai kandidat ketua, tiba-tiba rizky menunjuk " ardian pak " ucapnya " lah koq malah aku ky" ucap ardian kaget " sudah pak mereka saja pak" ucapku pada pak kurnia. 

    Setelah voting selsai akhirya ardian menjadi ketua kelas, fela menjadi wakil ketua , aku dan halimah menjadi bendahara serta yasnah dan chusniah menjadi seketaris. " Pembentukan struktur kelas sudah selesai, kalian bisa melanjutkan pelajaran ya" ujar pak kurnia " sudah belajar toh pak?" ujar indri pada pak kurnia " mungkin kalian masih perkenalan dulu, tergantung guru nya ya indri " ungkap pak kurnia, akhirnya pak kurnia meninggal kan kelas. Jam pertama dilalui dengan perkenalan guru mata pelajaran bahasa indonesia bu asri, begitu pun dengan mata pelajaran yang lain semua masih dengan fase perkenalan baik dari guru maupun murid. 

    Bel pulang pun berbunyi, suara khas yang paling di nanti-nanti semua murid, kami sekelas bergegas mengahkhiri perkenalan mata pelajaran terakhir. Halaman sekolah penuh dengan kegaduhan bising motor para murid yang mulai berhamburan meninggalkan sekolah. 

    Sesampainya aku di rumah, " assalamualiku, aku pulang" teriak ku sembari masuk kedalam rumah . ku banting tubuh lelah dan hawa panas siang ini yang membuat aku terlena pada kenyamanan kasur ini. ya, tak bisa di pungkiri tulang lunak ini lelah seharian memperhatikan perkenalan yang membosankan. tubuhku tidur di selimuti lelah dan penat siang ini .  belum sempat aku menyelami alam mimpi, ibuku memanggil " delion, ayo siap-siap mencari rumput untuk peliharaan ", sebenarnya aku kesal mengapa harus aku, siapa yang mengusulkan untuk memelihara kambing kenapa pula aku yang repot menafkahi kambing-kambing itu " iya sebentar, aku mau makan siang dulu bu" ujarku teriak.

    Setelah selesai makan aku menyiapkan peralatan merumput, dan menghampiri ibu ku yang sudah menunggu di depan " ayo bu berangkat " ucapku , " kamu udah solat zuhur belum?" tanya ibu pada ku " belum " jawab ku dengan santai nya " astagfirullah, mau jadi apa kamu kewajiban saja di tinggalkan solat dulu sana " ujar ibu dengan sedikit membentak, aku pun dengan langkah malas nan berat mengambil air wudhu dan solat. kami pun berangkat ke perkebunan sawit milik kami untuk merumput.

     setibanya kami di perkebunan kami segera memilah dan merumput , selekas selesai merumput kami beristirahat. ya tak dipungkiri ada saja cerita yang ibu sampaikan, membahas masalah pendewasaan kakak perempuan ku entah perihal perilaku atau pun perihal percintaannya . aku hanya mengiyakan tak ingin mencampuri urusan kakak ku itu, sebab menurut ku kehidupan seseorang adalah kendali masing-masing walau tak bisa di pungkiri orang tua terutama ibu adalah orang yang paling khawatir tentang anaknya aku memaklumi itu wajar saja dia mengajak ku untuk bercerita. kami bergegas pulang karena hari mulai beranjak sore. 

    Sesampainya di rumah ibu langsung menyuruhku mandi dan menunaikan solat asar, karena tahu anaknya ini subhanallah dableknya. Azan maghrib sudah berkumandang, pintu-pintu di rmuah ku sudah tertutup rapat ya karena memang sudah peraturan di rumah ku, bahwasanya sebelum maghrib semua tanpa kecuali sudah harus di rumah. kami bergegas mengambil wudhu dan menunaikan ibadah solat maghrib berjamaah yang di imam i oleh ayah ku, sedangkan ibu ku solat di kamar nya karena ruang solat yang hanya cukup untuk kami berempat dan ayah. 

Malam sudah menyapa suara jangkrik dan binatang malam sudah menyambut bersuka ria, aku membuka hp ku memastikan ada notifikasi yang ku tunggu ya notif chat dari sang pujaan hati hheheehe. tersenyum ku membaca chat itu, berbunga-bunga rasanya tak di pungkiri aku baru pertama kalinya berpacaran meski aku tahu ini bukan pertama kali aku jatuh cinta. sebab awal aku menyukai seorang lelaki adalah saat aku duduk di bangku sekolah dasar kelas 4, ya aku menyukai seorang lelaki yang menggunakan kacamata, mata sendunya, bentuk wajah nya yang tirus dan mungil, perawakan tinggi serta kesopanannya dlam berbicara itulah awal aku menyukai seorang lelaki. aku menyukainya selama 7 tahun sejak 4 SD sampai aku lulus SMP itu lah lelaki yang membuat aku jatuh cinta pertama kali nya. 

    Pacar ku ini bukanlah cinta pertama ku, bukan pula seseorang yang aku sukai dari awal. Permulaan yang tak terbayangkan juga kedekatan yang tak di prediksi tiba-tiba saja dia menembakku dan ku terima karena aku tak enak hati menolaknya bukan berdasarkan rasa suka. Meski ku tahu ayah tak menyukai bila mengetahui bahwa aku telah berpacaran, tapi maubagaimana lagi aku jalani saja. Aku sudah berpacaran selama 1 tahun lama nya sejak awal aku masuk SMA hingga kini, sebenarnya akhir-akhir ini dia sedikit aneh padaku aku merasa ada perubahan padanya. Wahyu ya nama lelaki yang menjadi pacarku itu, dia bukan lelaki ganteng, bukan pula lekaki yang keren seperti pacarnya teman ku. Aku tidak begitu peduli yang kutahu kini aku menyukainya meski awal permulaan tidak seperti sekarang. 

    Ada pepatah berkata cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, tapi aku belum mempercayai itu bukan pula aku menapikannya hanya saja aku belum menyadarinya. apakah memang harus saling mengenal baru bisa saling menyayangi?. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Tanpa Akar

Disudut elemen lain, ada beberapa hal yang tidak bisa didefinisikan. Bukan karena kehabisan kata, melainkan terlalu bising untuk diuraikan. Sama halnya dengan aku, gadis separuh usia 23 tahun. Penyuka bunga-bunga sendu, penikmat jingganya senja, beralun termenung bersama buih-buih lautan.  Gadis yang tak tahu bagaimana caranya meredam kan kebisingan otak dan hatinya. Terbuai luka-luka yang dan tersayat dengan harapan yang menyapa. Lalu, harus seperti apa untuk menguraikan semua ini?  Pertanyaan dan pertanyaan terus bermunculan, namun tidak satupun terealisasikan dengan jelas. Gadis seperti bunga diusia ini, namun bukan bunga-bunga yang memiliki akar yang terurai.