Langsung ke konten utama

Bunga Tanpa Akar

Disudut elemen lain, ada beberapa hal yang tidak bisa didefinisikan. Bukan karena kehabisan kata, melainkan terlalu bising untuk diuraikan. Sama halnya dengan aku, gadis separuh usia 23 tahun. Penyuka bunga-bunga sendu, penikmat jingganya senja, beralun termenung bersama buih-buih lautan. 

Gadis yang tak tahu bagaimana caranya meredam kan kebisingan otak dan hatinya. Terbuai luka-luka yang dan tersayat dengan harapan yang menyapa. Lalu, harus seperti apa untuk menguraikan semua ini? 

Pertanyaan dan pertanyaan terus bermunculan, namun tidak satupun terealisasikan dengan jelas. Gadis seperti bunga diusia ini, namun bukan bunga-bunga yang memiliki akar yang terurai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PATAH AKAN BERTUNAS

awal yang tak bisa di prediksi  karena semua masih dalam tahap adaptasi sama hal nya seperti pribahasa  tak kenal maka tak sayang Episode 01      Pagi yang cerah, sungguh mentari pagi ini menyilaukan pelupuk mata ku yang masih enggan untuk membuka dari alam bawah sadar ku. Perlahan ku membuka pelupuk kelopak mata ku dan menyekat tirai jendala kamar ku "Hmmm, tidak seperti biasanya aku bangun sepagi ini" gumamku. Terdengar ibu sudah mengoceh setengah berteriak padaku yang dikirannya belum bangun " delion! mau sampaikan kamu terus bermalas-malasan tak bangun dari kerajaan tidurmu itu " ungkap ibu dengan lantangnya. Delion itulah nama ku, anak ketiga dari empat bersaudara . Aku memiliki  dua orang kakak, satu laki-laki dan satu lagi perempuan serta memiliki seorang adik perempuan yang begitu menyebalkan bagiku.      Aku segera bangkit dari kasur kesayangan ku itu menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk sekolah. selesai aku mandi dan mengguna...